Jumat, 26 November 2010
ayam
https://docs.google.com/viewer?a=v&pid=explorer&chrome=true&srcid=0B-Cl2JKhBz1oYjRlMzM1NTktNzdjOS00ZmZjLWEwMTMtMGYwOWYyYjUzNjIx&hl=en
bes
NB : Silahkan download Buku Sekolah Elektronik (BSE) gratis. Tersedia Buku SD, SMP, SMA dan SMK. Semua mata pelajaran. Klik di sini
- RSS feed for comments on this post
- nanda says:Pak, tolong jangan besarannya saja dibuat satuan dan simbolnya juga ya pak
- just share says:pak, guru saya disekolah punya rumus supaya gampang nginget besaran pokok..
rumusnya TELAT ML
Temperature
Electric current
Length
Amount of subtance
Time
Mass
Luminous intensity
- metri says:pak,,, boleh ga klo anak kuliahan bli e-book yg bpak promosikan????
apa bayarx boleh lwat rekening paman??????
- Fizi says:pak…tUlis donk satuannya jangaN besarannya saj4
Ada 81 Komentar
Penyakit hewan
ND, Penyakit Klasik yang Selalu Mengusik
Poultryindonesia.com,
(Newcastle Disease) yang di Indonesia lebih dikenal dengan Tetelo
merupakan penyakit lama yang tetap aktual untuk dikaji ulang, karena
penyakit ini sangat berbahaya dan sewaktu-waktu dapat menyerang ternak
unggas.ND
merupakan masalah besar dan momok bagi dunia peternakan, karena
penyakit ini dapat menimbulkan angka kematian yang sangat tinggi
(mencapai 100%) dan waktu penyebarannya yang sangat cepat, baik pada
ayam ras, ayam buras maupun jenis unggas lainnya. Menurut para ahli,
penyakit ini dapat menular pada manusia dengan gejala klinis conjunctivitis
(radang konjunctiva mata) walaupun kasusnya sangat jarang dijumpai.
Sedangkan pada unggas dan burung liar lainnya dengan gejala klinis
berupa gejala syaraf, gejala pernafasan dan gejala pencernaan.
Penyebab dan
Kejadiannya
Penyakit ND disebabkanoleh virus dari famili Paramyxoviridae
dengan genus Pneumovirus atau Paramyxovirus, dimana virus
ini dapat menghemaglutinasi darah. Penyakit ini pertama kali ditemukan
oleh Doyle pada tahun 1926 didaerah Newcastle Inggris dan pada
tahun yang sama Kraneveld menemukan virus penyakit ini di Bogor.
Kejadian penyakit ini ditemukan di seluruh dunia, dimana menyerang
seluruh jenis unggas termasuk burung liar. Virus penyakit ini dapat
ditemukan pada organ-organ seperti alat pernafasan, syaraf dan
pencernaan.
Penyebaran
Penyebaran
penyakit ini biasanya melalui kontak langsung dengan ayam yang sakit dan
kotorannya, melalui ransum, air minum, kandang, tempat ransum/minum,
peralatan lainnya yang tercemar oleh kuman penyakit, melalui pengunjung,
serangga, burung liar dan angin/udara (dapat mencapai radius 5 km).
Virus ND ditemukan dalam jumlah tinggi selama masa inkubasi sampai masa
kesembuhan. Virus ini terdapat pada udara yang keluar dari pernafasan
ayam, kotoran, telur-telur yang diproduksi selama gejala klinis dan
dalam karkas selama infeksi akut sampai kematian.
Gejala
Klinis
Gejala penyakit ini dapat diamati melalui gejala pernafasan seperti
bersin-bersin, batuk, sukar bernafas, megap-megap dan ngorok; gejala
syaraf berupa sayap terkulai, kaki lumpuh (jalan terseret), jalan mundur
(sempoyongan) serta kepala dan leher terpuntir (torticoles) yang
merupakan gejala khas penyakit ini. Kemudian gejala pencernaan meliputi
diare berwarna hijau, jaringan sekitar mata dan leher bengkak, pada
ayam petelur produksinya berhenti, kalau sudah sembuh kualitas telurnya
jelek, warna abnormal, bentuk dan permukaannya abnormal dan putih
telurnya encer. Hal ini disebabkan oleh karena organ reproduksinya tidak
dapat normal kembali. Umumnya kematian anak ayam dan ayam muda lebih
tinggi dibandingkan ayam tua.
Bedah Bangkai
Untuk lebih meyakinkan bahwa suatu peternakan benar atau tidanya
terserang ND, maka tindakan bedah bangkai adalah jalan terbaik dalam
menegakkan diagnosa. Pada kasus ND hasil bedah bangkai berupa gejala
khas penyakit ini, yaitu adanya bintik-bintik merah (ptechie)
pada proventriculus (kantong depan ampela). Selain itu juga
terjadi perubahan pada lapisan usus berupa pendarahan dan kematian
jaringan (nekrosa). Pada organ pernafasan akan mengalami eksudasi
dan kantong udaranya menipis.
Penanggulangan
Berhubung penyakit ND disebabkan oleh virus maka sampai saat ini belum
ada satu jenis obat yang efektif dapat menyembuhkan penyakit ini.
Penanggulangan penyakit ND hanya dapat dilakukan dengan dengan tindakan
pencegahan (preventif) melalui program vaksinasi yang baik. Ada
dua jenis vaksin yang dapat diberikan yaitu vaksin aktif dan vaksin
inaktif. Vaksin aktif berupa vaksin hidup yang telah dilemahkan,
diantaranya yang banyak digunakan adalah strain Lentogenic terutama
vaksin Hitchner B-1 dan Lasota. Vaksin aktif ini dapat
menimbulkan kekebalan dalam kurun waktu yang lama sehingga penggunaan
vaksin aktif lebih dianjurkan dibanding vaksin inaktif.
Program vaksinasi harus dilakukan dengan seksama dan diperhatikan masa
kekebalan yang ditimbulkan. Vaksinasi pertama sebaiknya diberikan paling
lambat hari ke-empat umur ayam, karena penundaan sampai umur dua minggu
dan seterusnya akan menghilangkan kemampuan pembentukan antibodi aktif
oleh antibodi induk, sebab pada umur tersebut antibodi induk sudah tidak
berfungsi lagi. Program vaksinasi pada ayam pedaging sebaiknya
dilakukan pada umur tiga hari dan vaksinasi lanjutan pada umur tiga
minggu, sedangkan pada ayam petelur pada umur tiga hari, empat minggu,
tiga bulan dan selanjutnya tiap empat bulan sesuai kebutuhan. Pemberian
vaksin dapat dilakukan dengan cara semprot, tetes (mata, hidung, mulut),
air minum dan suntikan. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam
melaksanakan vaksinasi diantaranya :
·
Vaksinasi hanya dilakukan pada ternak yang benar-benar sehat
·
Vaksin segera diberikan setelah dilarutkan
·
Hindari vaksin dari sinar matahari langsung
·
Hindari hal-hal yang dapat menimbulkan stress berat pada ternak
· Cuci
tangan dengan detergen sebelum dan sesudah melakukan vaksinasi
Penutup
Mengingat
kerugian ekonomi yang ditimbulan oleh penyakit ND ini sangat tinggi
maka jalan terbaik dalam menanggulaninya adalah dengan menjalankan
program manajemen yang ketat berupa program vaksinasi dan sanitasi
lingkungan yang baik guna menghindari penyakit ini sehingga keuntungan
akan dapat lebih meningkat.
Silahkan
mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan
sumbernya : www.poultryindonesia.com
Poultryindonesia.com,
(Newcastle Disease) yang di Indonesia lebih dikenal dengan Tetelo
merupakan penyakit lama yang tetap aktual untuk dikaji ulang, karena
penyakit ini sangat berbahaya dan sewaktu-waktu dapat menyerang ternak
unggas.ND
merupakan masalah besar dan momok bagi dunia peternakan, karena
penyakit ini dapat menimbulkan angka kematian yang sangat tinggi
(mencapai 100%) dan waktu penyebarannya yang sangat cepat, baik pada
ayam ras, ayam buras maupun jenis unggas lainnya. Menurut para ahli,
penyakit ini dapat menular pada manusia dengan gejala klinis conjunctivitis
(radang konjunctiva mata) walaupun kasusnya sangat jarang dijumpai.
Sedangkan pada unggas dan burung liar lainnya dengan gejala klinis
berupa gejala syaraf, gejala pernafasan dan gejala pencernaan.
Penyebab dan
Kejadiannya
Penyakit ND disebabkanoleh virus dari famili Paramyxoviridae
dengan genus Pneumovirus atau Paramyxovirus, dimana virus
ini dapat menghemaglutinasi darah. Penyakit ini pertama kali ditemukan
oleh Doyle pada tahun 1926 didaerah Newcastle Inggris dan pada
tahun yang sama Kraneveld menemukan virus penyakit ini di Bogor.
Kejadian penyakit ini ditemukan di seluruh dunia, dimana menyerang
seluruh jenis unggas termasuk burung liar. Virus penyakit ini dapat
ditemukan pada organ-organ seperti alat pernafasan, syaraf dan
pencernaan.
Penyebaran
Penyebaran
penyakit ini biasanya melalui kontak langsung dengan ayam yang sakit dan
kotorannya, melalui ransum, air minum, kandang, tempat ransum/minum,
peralatan lainnya yang tercemar oleh kuman penyakit, melalui pengunjung,
serangga, burung liar dan angin/udara (dapat mencapai radius 5 km).
Virus ND ditemukan dalam jumlah tinggi selama masa inkubasi sampai masa
kesembuhan. Virus ini terdapat pada udara yang keluar dari pernafasan
ayam, kotoran, telur-telur yang diproduksi selama gejala klinis dan
dalam karkas selama infeksi akut sampai kematian.
Gejala
Klinis
Gejala penyakit ini dapat diamati melalui gejala pernafasan seperti
bersin-bersin, batuk, sukar bernafas, megap-megap dan ngorok; gejala
syaraf berupa sayap terkulai, kaki lumpuh (jalan terseret), jalan mundur
(sempoyongan) serta kepala dan leher terpuntir (torticoles) yang
merupakan gejala khas penyakit ini. Kemudian gejala pencernaan meliputi
diare berwarna hijau, jaringan sekitar mata dan leher bengkak, pada
ayam petelur produksinya berhenti, kalau sudah sembuh kualitas telurnya
jelek, warna abnormal, bentuk dan permukaannya abnormal dan putih
telurnya encer. Hal ini disebabkan oleh karena organ reproduksinya tidak
dapat normal kembali. Umumnya kematian anak ayam dan ayam muda lebih
tinggi dibandingkan ayam tua.
Bedah Bangkai
Untuk lebih meyakinkan bahwa suatu peternakan benar atau tidanya
terserang ND, maka tindakan bedah bangkai adalah jalan terbaik dalam
menegakkan diagnosa. Pada kasus ND hasil bedah bangkai berupa gejala
khas penyakit ini, yaitu adanya bintik-bintik merah (ptechie)
pada proventriculus (kantong depan ampela). Selain itu juga
terjadi perubahan pada lapisan usus berupa pendarahan dan kematian
jaringan (nekrosa). Pada organ pernafasan akan mengalami eksudasi
dan kantong udaranya menipis.
Penanggulangan
Berhubung penyakit ND disebabkan oleh virus maka sampai saat ini belum
ada satu jenis obat yang efektif dapat menyembuhkan penyakit ini.
Penanggulangan penyakit ND hanya dapat dilakukan dengan dengan tindakan
pencegahan (preventif) melalui program vaksinasi yang baik. Ada
dua jenis vaksin yang dapat diberikan yaitu vaksin aktif dan vaksin
inaktif. Vaksin aktif berupa vaksin hidup yang telah dilemahkan,
diantaranya yang banyak digunakan adalah strain Lentogenic terutama
vaksin Hitchner B-1 dan Lasota. Vaksin aktif ini dapat
menimbulkan kekebalan dalam kurun waktu yang lama sehingga penggunaan
vaksin aktif lebih dianjurkan dibanding vaksin inaktif.
Program vaksinasi harus dilakukan dengan seksama dan diperhatikan masa
kekebalan yang ditimbulkan. Vaksinasi pertama sebaiknya diberikan paling
lambat hari ke-empat umur ayam, karena penundaan sampai umur dua minggu
dan seterusnya akan menghilangkan kemampuan pembentukan antibodi aktif
oleh antibodi induk, sebab pada umur tersebut antibodi induk sudah tidak
berfungsi lagi. Program vaksinasi pada ayam pedaging sebaiknya
dilakukan pada umur tiga hari dan vaksinasi lanjutan pada umur tiga
minggu, sedangkan pada ayam petelur pada umur tiga hari, empat minggu,
tiga bulan dan selanjutnya tiap empat bulan sesuai kebutuhan. Pemberian
vaksin dapat dilakukan dengan cara semprot, tetes (mata, hidung, mulut),
air minum dan suntikan. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam
melaksanakan vaksinasi diantaranya :
·
Vaksinasi hanya dilakukan pada ternak yang benar-benar sehat
·
Vaksin segera diberikan setelah dilarutkan
·
Hindari vaksin dari sinar matahari langsung
·
Hindari hal-hal yang dapat menimbulkan stress berat pada ternak
· Cuci
tangan dengan detergen sebelum dan sesudah melakukan vaksinasi
Penutup
Mengingat
kerugian ekonomi yang ditimbulan oleh penyakit ND ini sangat tinggi
maka jalan terbaik dalam menanggulaninya adalah dengan menjalankan
program manajemen yang ketat berupa program vaksinasi dan sanitasi
lingkungan yang baik guna menghindari penyakit ini sehingga keuntungan
akan dapat lebih meningkat.
Silahkan
mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan
sumbernya : www.poultryindonesia.com
Langganan:
Postingan (Atom)